Aku tumbuh menjadi seorg anak yg biasa-biasa aja. Cenderung pendiam. Kedua orang tua ku sama-sama bekerja. Ketika usiaku masih balita, aku sering dititipkan dirmh salah satu warga di daerah Astanagarib, tempat dimana ibuku bekerja dulu. Yang biasa aku panggil dgn sebutan Mbah Erum, adalah org yg dengan senang hati merawat dan menjagaku ketika ibuku bekerja. Hingga umurku sudah cukup untuk disekolahkan, aku pun mengawali dunia pendidikan di TK Darul Hikmah, daerah Petratean. Nggak begitu banyak kenangan aku disana. Namun yg masih melekat diingatanku adalah kebiasaanku tiap istirahat tiba, mengeluarkan sebungkus bekal nasi kuning yg aku bawa dari rumah dan berlari ke ruang guru untuk minta disuapin oleh salah satu guru disana. Waktu TK, aku adalah seorg anak yg lebih banyak mengurung diri didlm kelas, ketika teman-temanku yg lainnya berkeliaran diluar kelas. Mungkin lebih tepatnya, penakut! Pernah suatu hari, ketika aku ingin jajan. Saat itu uang yg aku bawa hanya Rp. 1000,- karena nominal uang seribu waktu itu sangat besar dan bisa membeli apa aja. Coba bayangin sm jaman sekarang, uang 1000 buat beli baso ikan aja masih kurang ._. Waktu aku lg jalan pgn beli jajan, aku dihadang sm 3 orang cewek-cewek centil, murid situ juga. Mereka mengetrek ku. Dengan pasrah, aku memberikan sebagian uang ku itu kpd mereka. Gayanya itu..., uuuhhh..., berasa udh paling cantik aja! Tapi aku masih bisa jajan sih. Dengan modal 500 perak aja, aku udah bisa beli kue cubit, cemilan kesukaanku. Oh iya, selama aku TK, orang yg paling setia menunggu dan menjemputku bubaran sekolah adalah Bapak Ia:)
Beralih ke SD. Aku bersekolah di SDN Kesambi Dalam 1, tempat uwaku bekerja menjadi guru olahraga disana. Di SD, aku termasuk murid yg pandai. Ranking ku tidak pernah jauh dari angka 1, 2, atau 3. Sainganku dikelas pasti Sidik dan Kokom. Tapi aku juga sempat ngerasain gimana rasanya dpet rangking 9, lalu turun lagi menjadi 5. Rasanya itu nyesek jleb jleb jleb...
Oh yaaa, ketika aku duduk di bangku kelas 4 SD, kedua orang tuaku memutuskan untuk berpisah. Semenjak saat itu, aku lebih memilih tinggal bersama uwaku yg belum dikaruniai anak. Tetehku tinggal bersama ayahku. Sedangkan ibuku, setelah beberapa lama kemudian, dia menikah kembali. Ayah?? Dia tetap mempertahankan status dudanya sampe skr ini. Kecintaannya terhadap aku dan tetehkulah yang menjadi alasan kuat kenapa ayah nggak married-married lagi.. Setelah perceraian itu, aku jadi jarang bertemu dengan ayah. Tiap kali ketemu, ayah selalu nyamperin aku ke sekolahan kalo waktu istirahat tiba. Karena kantor ayah memang berseberangan dgn sekolahku waktu itu. Ayah rajin nganterin aku bekel makanan. Hampir setiap hari ayah mampir ke sekolahan hanya sekedar untuk menjengukku.
Selepas SD, aku melanjutkan studi ku di SMP 6. Sekolah yg berada persis di belakang rumahku. Awalnya, aku dan saudara tiriku - anak bawaan dr ayah tiri - yg kebetulan seumuran, sama-sama mendaftar di SMP 5, test pun disana. Cuma keberuntungan lg memihak ke saudara tiriku itu. Aku gagal bisa masuk ke SMP 5. Jadilah aku masuk ke SMP 6. Kata om ku - panggilan ke ayah tiri - katanya, masih bnyk kursi kosong di SMP 5. Dia nawarin buat aku sekolah disana. Tapi tololnya, aku malah nolak. Yap! Mungkin aku emg nggak ditakdirin disana...
Kalau aku skolah di smp5, mungkin........... hehehehe \m/
02/02/12 02:50
Tidak ada komentar:
Posting Komentar